Sepenggal Kesalahanku


Segunung dosa yang kuberikan, akankah terhapus oleh setitik maaf ?

Kurangkai lagi napak tilas yang kita lalui.
Begitu terjal dan berbatu.
Hanya sedikit jalan aspal yang kulihat.

Pertama kali kulihat semestaku dalam matamu.
Dettik waktu seakan berhenti.
Dan matahari bersinar lebih terang.
Aku ingin tau namamu
Nama yang akan menjadi puisi dalam tidurku.

Hari itu aku tau
Yayan Tedja
Nama yang begitu bermakna dalam hidupku
Terngiang dalam setiap langkahku
Begitu manis kala itu kusebut
Namamu selalu kusisipkan dalam setia doaku
Meskipun kala itu aku tak tahu harus meminta pada Tuhan yang mana

Kumantapkan hatiku padamu

Sampai akhirnya gadis mungil yang kusebut dalam doa itu menjadi satu denganku

Aku ingat semua untaian janji dan doa kita lantunkan untuk menyertai keluarga kecil kita
Skuter yang menjadi saksi cinta kita pun masih berputar-putar
Mengelilingi kotaku yang ceria kala itu

Kau begitu ceria kala itu sayangku
Aku tak peduli kau diciptakan oleh tuhan yang mana
Yang kutau, kaulah duniaku kala itu

Kita dianugrahi 6 mutiara, Tuhan baik padaku.
Aku sungguh bersyukur memilikimu
Lebih bersyukur dimiliki olehmu.

Sampai akhirnya si jahat merasukiku
Roh nafsu yang berkamuflase menjadi cinta yang baru
Aku memalingkan wajah darimu
Menemui ular betina di sarangnya
Ular itu telah meracuniku dengan buaian cinta dan kasih sayang
Maafkan aku sayangku, maafkankeberpalingan diriku darimu

Aku memikat janji yang katanya suci itu lagi, namun sangat terkutuk untukku

Aku menggenggam violet di tangan kananku dan mawar berduri di tangan kiriku

Bisa ular itu telah merasuk dalam darahku, aku seperti mati dihadapanmu
Aku terlalu dalam menancapkan duri itu
Mencoba menyatukan mawar dengan violetku, dan tanpa sadar, aku menyakitimu

Tak tau kutukan atau anugrah
Tuhan memberiku mutiara hitam, melalui ular itu
Tanpa sadar aku harus menggenggam kedua bunga itu lebih erat
Namun apa yang kudapatkan?

Darah mengalir begitu deras, keluar dari tangan kiriku
Tertancap mawar berduri itu lebih dalam
Violet mungilku menatap wajah kesakitanku
Merasa kasihan namun tertutup rasa benci

Aku sadar harus melepas mawar itu
Mawar yang menarik untukku
Tapi aku tau, dia bukan untukku

Akhirnya keputusanku sudah bulat
Kulepas mawar itu perlahan
Sampai ia jatuh tersungkur ke tanah
Kuobati tangan kiriku yang tertancap duri-duri itu
Tertancap begitu dalam

Kulihat violetku tertancap duri itu
Sampai ke inti bunga
Kucoba mencabut duri itu, tapi sudah terlalu dalam

Kulihat 6 mutiaraku
Memudar dan kusam
Hari demi hari kubersihkan mereka
Tapi sudah tak seperti dulu lagi
Kulihat refleksiku pada mereka
Ya, buram, setidaknya mereka tak memancarkan bayanganku

Yayanku tak seperti dulu lagi
Ia terluka oleh ulahku sendiri
Beribu kata maaf kulantunkan pada jiwanya yang suci

Tapi waktu berlalu dan violetku semakin layu
Lukaku juga belum sembuh
Ke 6 mutiara ku tak semngkilap dulu
Tubuhku semakin tua
Hari-hari kuhabiskan bersama 6 mutiaraku dan violetku
Mengikis gunungan dosaku perlahan
Aku menjaga mereka dari ular dan mutiara hitam itu
Meskipun satu-satunya jalan adalah berlari

Sampai suatu hari kakiku tak sanggu lagi melangkah
Nafasku terengah-engah
Kulihat cahaya rembulan tepat diatas kepalaku
Mengisyaratkanku untuk beristirahat
Sangkakala pun telah berdengung di kupingku
Mengisyaratkan akhir dari zamanku

Akupun tertidur sangat pulas
Begitu pulas sampai ada yang membangunkanku di langit ke 7
Ditempat yang bagiku sangat indah

Kulihat ke bawah
Kudapati tubuhku tertidur begitu pulas dan begitu fana
Kulihat dia di puncak gunung kehidupan
Dihiasi begitu banyak mutiara serta violet yang setia disampingku

Kulihat ular itu datang menghampiri tubuhku
Menitipkan mutiara hitam itu
Diantara kilauan-kilauan mutiaraku yang berkilau

Kulihat Yayanku bersedih
Tapi aku tak bisa apa-apa
Hanya bisa melihatnya dari atas sini

Ia menghiasi tidurku dengan puisi, serta lantunan doa yang begitu syahdu dalam tidurku

6 mutiara indah dan 1 mutiara hitam menghiasi kepalaku

Membuatku semakin lelap dan lelap

Aku tak sadar setitik air mataku memurnikan jiwaku

Hanya seutas senyum yang dapat kuwariskan pada mereka yang menyertai tidur lelapku

Aku pergi
Dengan sepenggal kebaikan dan segunung kesalahan
Dengan berbahagia berada di samping kalian

Liongbulan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uki

Jurnal Ngalor Ngadul Ngomeng

Rutinitas