Uki


Uki terbangun dengan segala aktivias yang biasa dia lakukan tanpa keluhan. Ego Keluhannya tidak sebanding dengan impiannya. Saat dirasa urusan rumah selesai, dia pergi mulai membanting setiap tulang dalam tubuhnya. Dia menyerahkan darah, keringat, air mata untuk apa yang dia impikan, hingga akhirnya semua itu dia dapatkan.
Teringat sepintas seorang pelajar yang pernah dia temui di sebuah shelter bus, seorang pelajar yang memiliki raut penuh dengan impian, tak sengaja berbicara dengannya saat dia berada dititik nol dalam hidupnya. Di sore yang panjang menunggu datangnya bus yang tidak kunjung datang, mereka isi oleh cerita tentang diri sendiri hingga yang ditunggu pun datang. Senang rasanya karena akhirnya datang walaupun kesal rasanya waktu yang terbuang. Semua penumpang masuk, namun mereka berdua tidak ada yang beranjak berdiri dari kursi shelter, butuh rasanya rasa didada itu keluar, butuh pendengar mendengar keluhan yang keluar. Itu yang mereka pikirkan, hingga akhirnya bus pun berlalu dan cerita berlanjut di shelter bus yang tersiram sinar sore. "Seorang pelajar yang memiliki kepekaan dan pemikiran hebat, seseorang yang sangat mengetahui aku" itu yang terlintas dibenak Uki tentang si pelajar. Setiap kata si pelajar dalam percakapan itu memberi harapan bagi impian Uki. Seorang pecundang yang seketika menerima semua ocehan bocah berumur 18 tahun. Di satu sisi Uki merasakan penderitaan pun ada di dalam diri si pelajar. Lebam dimata kirinya, kertas ujian dengan nilai 4 dan surat peringatan pembayaran yang keluar dari tas yang belum tertutup secara sempurna, hingga sepatu yang sol depan terbuka bila si pelajar merubah posisi kakinya. Pelajar tersebut hanya tersenyum saat Uki memperhatikannya secara seksama. Hanya dengan kata-kata yang keluar dari mulut pelajar itu, membantu Uki bangkit dari titik 0 nya, benar-benar menampar dan memberikan makanan untuk impian Uki yang sudah hampir mati kelaparan.
Sekarang impiannya yang hampir mati itu sudah berevolusi menjadi pencapaian. Bahkan pencapaian itu lebih dari apa yang dia impikan, apapun yang dia pikirkan sekarang dapat dia wujudkan. Uki ada di puncak keberhasilannya, semua jerih payah terbayar sudah. Tidak ada lagi tulang yang harus dibanting. Tidak ada lagi darah, keringat, air mata yang harus dikeluarkan. Tidak ada lagi sore menunggu bus yang tidak kunjung datang.
Teringat si pelajar, rasa ingin berterima kasih pun muncul dibenak Uki. Pada hari dan waktu yang sama seperti dulu, mereka bertemu ditempat yang sama dengan sinar sore yang sama pula. Uki melihat pelajar tersebut, tidak ada perubahan berarti dari si pelajar, hanya luka lebam di mata sebelah kirinya hilang dan berpindah di lengan kirinya dengan ukuran lebih besar dari luka matanya dulu. Uki mendekat dan mengucapkan terima kasih lalu dilanjutkan dengan percakapan ringan. "Apa kebutuhanmu sekarang?" Uki menunjukan kalau waktu baginya membantu pelajar itu. Pelajar itu berfikir lalu Uki melanjutkan "Impian-ku tercapai, sekarang waktunya impian-mu.". Lalu pelajar itu menjawab bersamaan dengan bunyi bising yang entah munculnya dari mana "Uki artinya harapan, apa benar harapan akan impian-mu yang sudah tercapai itu, benar sudah tercapai?"
Seketika Uki terbangun oleh bunyi alarm, sudah pagi Uki harus segera ke sekolah. Ada impian yang ingin dia gapai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Ngalor Ngadul Ngomeng

Rutinitas