Copy yang tak paste
Copy Yang Tak Paste
Disuatu pagi, aku terbangun dengan tubuhku yang masih sedikit sakit akibat radang. Aku yang masih terkulai lemas berjalan gontai menuju dapur rumahku untuk mengambil segelas air.
Setelah kuteguk tanpa jeda segelas air itu, aku bergegas ke kamar, tapi perhatianku ke pintu kamar terhenti oleh ayahku yang sedang menonton tv di ruang keluarga.
Lalu kuurungkan niatku untuk berbaring kembali, dan memutuskan untuk duduk di samping beliau, sambil terkulai dan bicara basa-basi.
"Pah, nonton apaan?"
"Biasa, berita"
"ooh"
Kami pun mulai berbincang mengenai isu politik yang sedang hangat di Indonesia, kami saling bertukar pandangan tentang calon presiden yang saat itu ada 2 paslon, kubu 01 yaitu Jokowi dan kubu 02 yaitu Prabowo.
Pandangan kita berbeda tentang arus politik kedua paslon tersebut.
Obrolan pun terus berlanjut sampai dia mengganti topik obrolan kami, sekarang dia memulai topik tentang kehidupan, mengenai masa lalunya dan masa sekarang.
Kudengarkan satu per satu kata yang ia untaikan tentang masa lalunya, persis seperti aku yang sekarang, terombang - ambing oleh kehidupan, bingung menentukan jalan mana yang benar, yang mana kebenaran itu relatif, kata dia.
Dia berbicara tentang segala hal yang merubahnya menjadi buruk menurut dia, serta proses-proses yang membawanya kembali ke jalan yang menurutnya itu baik.
Sama seperti pandangan politik kami yang berbeda, pandanganku tentang dia dan pandangannya tentang dirinya sungguh berbeda.
Ia menganggap dirinya sebuah kesalahan akibat masa lalunya, sedangkan aku melihat dia sebagai manusia yang sewajarnya. Ia tak ingin aku seperti dirinya, kali ini aku sepakat, aku ingin menjadi diriku sendiri, tanpa ada bayangan dirinya, bayanganku adalah aku, bukan dia.
Lalu setelah lama berbincang, ia berpamitan padaku untuk pergi bekerja, aku pun membekali dia dengan doa untuk kelancaran harinya, serta keselamatan.
Seperginya dia, aku menerka-nerka intisari kehidupan apa yang harus aku ambil darinya.
Aku hanya dapat mengambil beberapa hal, kami memiliki persamaan dalam beda, dia adalah dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dan aku adalah aku dengan segala pembelajaranku.
Dia adalah dia, bukan aku.
Aku hanya belajar dari dia, bukan menjadi seperti apa yang dia anggap sempurna,
melainkan untuk menjadikan aku yang semakin menjadi aku.
Komentar
Posting Komentar